PERTEMUAN SINGKAT (15 Maret 2015, 12.31 PM)




Seutuhnya bukan salah mereka. Mereka pun korban. Tapi kita yang tak pernah tau terkadang memandang sebelah mata. Hingga saat ini aku baru benar-benar menyadari. Betapa kehidupan mereka pun sangat sulit. Mau membantu tapi apalah daya. Aku sendiri juga perlu dibantu.
Perlahan karena keadaan, air mata mulai tercipta, cepat-cepat aku menahannya. Tak mau keluar. Malu. Melihat mereka berjalan bertiga beriringan. Satunya tinggi dari pada yang duanya. Dan yang ini begitu mirip dengan adikku. Kepalanya miring, entah kenapa. Yang jelas aku kasian melihatnya. Terlepas dari keadaan fiksinya. Tapi lebih kepada kemiripannya dengan adik kandungku.
***
            Berleha-leha menghabiskan waktu. Menekan-nekan tombol-tombol yang terhampar dihadapanku. Sekedar mencek dan ricek dunia ke-2 yang aku miliki. Begitu santainya, beban hidup pun tak lagi terasa.
            Tiga orang anak laki-laki melewatiku. Entah kenapa, aku memandang begitu lama kepada mereka. Sesaat otakku kosong. Tik… Tik… Tik.. beberapa detik terlewati. Kilatan pertanyaan melintasi otak, membuat mataku berkedip.
            “Ngapain mereka..”
Belum beres lamunanku akan mereka, satu di antara mereka menyapaku.
            “krupuknya kaka..”
            “hm….,” sedikit terkaget dan aku hanya bisa bergumam.
            “berapaan dek?” Tanya ku.
            “2000 an kaka..” dengan alunan yang di bikin-bikin.
            Aku tersenyum dengan nadanya. Seperti dibuat-buat tapi lucu. Memilih-milih krupuk dan kripik yang ada di dalam keranjang persegi panjang putih bekas dari tong buah. Yang diberi tali seperti tas sampingan.
            “ya udah yang ini aja, tunggu sebentar.”
Berbalik arah dan menarik tas yang ada di sampingku hingga ada di pangkuan. Dengan santai aku bertanya.
“masih sekolah g dek..?” tanyaku penuh dengan perasaan sayang.
            “masih kak.”
            “dimana?”
            “di SD jatinangor.”
Ingin rasanya bertanya lebih dalam lagi. Tapi aku masih belum berani. Berharap akan bertemu denganya lagi.
***
Banyak isu beredar di lapangan. Katanya sich mereka g miskin sebenarnya. Cuma mereka kayak gitu karena di suruh. Siapa lagi kalau bukan orang tua mereka. Jadilah mereka korban dari orang tua mereka untuk mendapatkan uang.

Komentar