Mahasiswa COPAS
“Anak kuliah zaman
sekarang.”, bapak yang ada di hadapnnya memperbaiki ganggang kaca mata, yang
entah kenapa.
“perasaan nggak ada yang
salah.”, gumamnya dalam hati.
Dia hanya terdiam, duduk
mematung, menunggu komentar seorang bapak yang tak lain adalah dosen
bimbingannya.
“kamu udah baca ulang
belum”, lanjut bapak yang ada di hadapannya bertanya kepada dia.
“hm, udah pak.”, seperti
terdengar meragukan.
“yakin, sudah baca ulang?”,
meyakinkan kepastian jawaban yang pertama.
“memang udah berapa kali
kamu baca..?”, menatap dari balik kacamata yang kedodoran.
“kenapa masih kayak gini..?”
Mulai dia terlihat gugup.
Sepertinya memang tidak di baca ulang. Atau di baca ulang tapi tidak di pahami.
“dasar, pemalas. Kalau
seperti ini, mending kamu baca dulu, sampai kamu paham dengan apa yang kamu
buat. Ini berantakan sekali.”, membuka kaca mata dan merebahkan punggung ke
sandaran kursi.
Suasana ruangan dengan
deretan meja-meja yang ditumpukin buku-buku dan kertas-kerta, menjadi panas.
Awalnya dingin dari AC, sekarang hanya ujung-ujung tubuh saja yang dingin.
Ujung tangan dan ujung kaki.
“dapat dari mana bahannya
ini?”
Mulai mengintrograsi.
“dari internet, Pak.”
“Bukunya ada?”
“ada Pak.”
“udah baca semua.”
“belum pak.”
“bawa nggak, bukunya?”
“Bukunya baru ada tahun 2011
Pak. Dan penulisnya dari luar Pak. Saya dapat bahan ini dari Jurnal, nah,
jurnal itu ngambil bahan dari Buku itu Pak.”
“g bisa gitu donk. Kamu
harus baca langsung dari Bukunya.”
“Tapi, basa Inggris Pak.”
“ya, kan ada google
translet.”
“kamu itu ya, terlalu banyak
alasan. Bilang aja malas baca.”
Dia terdiam. Bapak itu
kembali membalik-balik skripsi yang ada di hadapannya. Mencoret-coret dan
melipat-lipat ujung-ujung kertas yang di coretnya tadi. Mungkin untuk
mempermudah mahasiswanya ini. Nanti jika saatnya merevisi.
“Skripsi itu ya, harus
benar-benar dibaca bahannya. Tidak bisa asalan seperti ini. Benar-benar zaman
sekarang itu, tidak seperti mahasiswa zaman dulu. Sekarang itu enak. Buat
mencari referensi buku itu mudah. Kamu tinggal klik ini klik itu, udah dech
muncul seribu pencarian yang mengarah kesana. Tinggal kamu baca. Okelah, kamu
dapat dari jurnal. Jurnalnya mana?”
Kaget dia.
“hehe, saya bacanya di
laptop aja, Pak.”
“bagaimana kamu buat
mempertahankan skripsi mu ini nanti jika tidak bisa menampilkan bukti-bukti.”
Bapaknya menggeleng-geleng.
***
Di tengah malam yang sunyi,
aku duduk termenung sendiri. Pikiran melayang-layang entah kemana-mana. Untung
saja tidak sampai nyasar, dan bisa balik sendiri. Hehe..
Ku edarkan pandanganku ke
sekeliling kamarku yang hanya berukuran 3x2,5 meter. Mataku sempat mampir di
tumupukan putih dan beberapa ada juga yang berwarna kuning ke orange-orange
–an.
“skripsi..”, kata itu
berdesir di hati dan melintas di pikiranku.
Baru saja aku beres kuliah.
Yach, kuliah.
Komentar