Langsung ke konten utama
Jl. Banjarnegara No.14 Antapani
Sabtu 29 Agustus 2015
Menggunakan damri berangkat dari nangor menuju Antapani. Hari ini semua belum pasti, kemana alamat yang ku tuju. Yang pasti, aku sudah pernah kedaerah sana, meski bisa di hitung dengan jari. Antapani kidul, Jl. Banjarnegara No. 14 Bandung.
Dijadwalkan pukul 10 pagi, untuk menghindari telat kurencanakan jam 7 pagi sudah berangkat. Karena damri itu baru ada sekitar jam 7.30 sampai jam 8. Aku sudah pernah memperhitungkan kedatangan damri pagi. Yang jelas dalam rentang jam 7-jam 8 ada 1 damri. Hanya bisa memastikan jam, tidak untuk menit. Jadi kita sebagai konsumen indonesia harus lebih cermat agar tak telat.
Jam 7 lewat mendekati jam setengah 8 keluar dari kosan teman di Jatinangor. Karena kosanku sekarang ada di Cibiru. Sesampainya di pangkalan damri, alhamdulillah tanpa menunggu sudah ada damri. Cuman kali ini kita harus ngetem, biasanya kalo rame nggak ada lagi pake acara ngetem karena kursi full langsung berangkat.
Mendekati jam 8 kami baru berangkat menuju dipati ukur. Seperti yang sudah ku bilang di awal, tujuanku adalah antapani bukan dipati ukur. Dengan damri aku bisa menghemat ongkos 4 ribu sampai dengan 6/7 ribu dibandingkan dengan naik angkot. Naik damri hanya menyambung angkot satu kali. Sedangkan dengan angkot aku bisa 3 kali turun naik untuk berganti tujuan hingga sampai di Antapani. Itu kelebihan damri, berada di harga. Sedangkan untuk kecepatan, lebih cepat angkot, karena ngetem g terlalu lama dan kalau beruntung bisa tanpa ngetem dan itu lebih cepat 15 menit sampai dengan 1 jam. Tergantung keberuntungan, untuk pagi sich jarang ngetem karena rame. Orang butuh cepat untuk keberbagai tujuan. Kalo lagi sial, macet tiba-tiba saja bisa datang. Terlebih untuk kawasan bundaran cibiru hingga sepanjang soekarno hatta. Untuk kasus ini aku lebih memilih untuk berhemat uang, makanya memilih damri.
Hari yang cerah dengan jiwa baru, aku menglangkahkan kaki menuju komunitas ini. Entah apa lah yang akan terjadi nanti aku tak tau. ini komunitas apa, aku juga nggak tau.
***
Di perjalanan, selama di damri, berjalan lancar. Cuma aku sedikit lapar. Berharap nanti ada orang jual gorengan di Antapani makanya aku nggak jadi beli tahu yang di jajakan sewaktu keluar tol. Nggak enak makan di samping orang yang aku tak kenal meski belum perkenalan dan meski aku berbasa basi untuk hal itu, semua tergantung sikon, tapi aku memilih menahan perut untuk saat ini.
Setelah dari damri ini, aku harus berhenti di dekat pombensin supratman atau di dekat tokyo express. Dari sana sudah ada angkot antapani ciroyom. Karena masih bingung aku menghubungi kang Iqbal untuk menanyakan alamat pastinya.
“Kang Iqbal, kalo naik angkot Antapani ciroyom bisa g..? Nanti turun dimana?”
“Bisa Li, ntar turun di persimpangan JL. Indramayu aja.”
“lewat dari Griya Antapi g..?”
Kenapa aku langsung menanyakan dekat Griya Antapani? Karena dulu aku sudah pernah pergi kedaerah dekat sana. Itu pun g tau dulunya harus turun dimana, nekat we trus nanya sama mang-mang angkotnya.
Beruntung jika mang-mang tukang angkotnya baik. Dia bisa memberi kita petunjuk dengan baik. Selama ini aku berada di bandung, berbagai supir angkot banyak aku temui. Ada yang dengan lengkat dia memberi tau, sampai benar-benar detail. Mulai dari arah petunjuk-petunjuk umum seperti disana ada apa, dekat apa, ada fasilitas umum apa disana nanti ketemu apa, bapaknya pasti jelaskan dengan rinci. Kita pun jadi bermantap hati untuk menuju tujuan yang kurang jelas ini. Ada pula tipe setengah-setangah. Ngasih taunya Cuma naik angkot apa. Tapi g tau juga harus turun dimana. Dan tipe tanpa hati. Ngasih tau tau nyuruh kita untuk naik angkotnya, tapi angkotnya g lewat apa yang kita tuju, biar kita naik angkot dia dan bayar, paling di tengah jalan kita nanti di turunin trus di suruh nyambung angkot. Dan itu terjadi saat pertama kali saya ke Tanah sunda ini.
No Body is Perfect.
“iya lewat li, ntar tanya aja turun di simpang indramayu ke supir angkotnya.”
***
Saat turun di dekat bom bensin, aku diturunkan sedikit lewat. Karena di sana adalah persimpangan jadi harus agak jauh sedikit untuk berhenti. Setelah turun aku langsung menuju pom bensin. Kebetulan lagi lampu merah, jadi mobil-mobil pada berhenti termasuk angkot.
Sang supir mencari-cari calon penumpang, dan salah satunya aku karena gelagatku sudah menuju angkot, langsunglah sang supir memanggil.
“Antapani, Antapani..”
Lang bertanya kepadaku, “Antapani neng..?”
“iya mang.”
Dari kejauhan meski tak terdengar, insyarat meng-iya kan itu cukup jelas. Dan supirnya menungguku.
Aku naik dan duduk miring karena lagi sepi. Setelah lampu merah hilang angkot melaju. Selalu memperhatikan alama-alamat yang tertera di di sepanjang reklame toko-toko, untuk mengetahui ada apa saja di sepanjang jalan yang ku lewati. Bisa jadi suatu saat nanti aku harus kesana dan aku sudah tau. selain itu, untuk saat ini kan alamtnya belum jelas. Jadi aku harus setia untuk melihat-lihat alamat tersebut.
Jalan terusan jakarta itu cukup panjang, aku agak cemas juga apakah jalan indramayu ini g di lewati angkot, meski ku tau dari kang iqbal turunya di sana. Persoalannya, ini angkot berbelok di tengah-tenga jalan terusan jakarta dan memasuki daerah lain yang aku tak tau pasti, taunya Cuma antapani.
Masih di jalan terusan jakarta aku beranikan diri untuk bertanya ke mang-mang tukang angkotnya, “ Mang nanti lewat jalan indramayu?”
“iya.”
“nanti turuni di sana ya.”
Mangnya Cuma mengangguk saja.
***
Meski sudah ku bilang ke mang supir angkot aku masih standby memperhatikan alamat. Lewat dari Griya Jatinangor, ada banyak yang turun dan aku juga liat ada plang yang bertuliskan Jl. Indramayu. Aku langsung saja turun. Aku adalah orang terakhir yang turun, belum aku ada ibu-ibu juga yang turun.
Dari jalan ini aku masih belum tau harus kemana. Daripada lama nunggu sms, aku mending nanya. Dan Ibu yang turun sebelum akulah yang menjadi sasarannya.
“Bu, numpang nanya, jalan banjarnegara di sebelah mana ya bu..?”
“ou, masuk kedalam neng.”
“jauh g bu.”
“lumayan.”
“tapi bisa jalan kaki kan bu.”
“bisa kok neng, ibu juga mau kedalan, ayuk bareng.”
Untung ada Ibu yang baik hati ini, aku pun merasa nyaman untuk bertanya.
“nanti jalan lurus aja belok kiri trus tanya lagi aja dekat sana. Ibu juga sering jalan kaki kok.”
Wah, kebetulan ini, kalau ibu ini saja bisa berjalan kaki kesan, berarti tidak terlalu jauh. Aku kan masih muda harusnya bisa, masak kalah sama ibu-ibu yang sepantaran dengan nenek aku.
Hehhe…
“Kalau ibu mau kemana?”
“ini kesebelah sini, di sebelah sana rumah ibu, mari mampir.”
“ou, terima kasih Bu, saya ada acara sudah di tungguin disana.” Kataku sambil tersenyum.
“terima kasih ya Bu.”
“sama-sama neng. Lurus aja ntar baru belok kiri ya. Tanya lagi aja disana.” Ibunya mengulangi instruksi biar aku nggak salah jalan.
“iya bu, makasi banyak bu.”
Ibu itu pun berlalu dan aku berterima kasih sekali, karenanya aku bisa memangkas ongkos dari pada naik ojeg yang belum tau berapa, karena ini perumahan pastinya mahal. Dulu saat pertama kali ke Antapani pun aku naik ojeg karena mutar-mutar nyari alamat aku harus bayar lebih.
***
Perjalan menuju banjar negara pun pakai acara nyasar 2 kali. Pertama sudah kelewatan. Aku harus mundur, kedua kalinyanya terlalu mundur maka harus maju lagi.Saat aku tanya ke pos satpam kompleks pun kurang jelas. Mungkin karena terlalu banyak nama jalan akhirnya g hafal.
Syukurlah akhirnya aku bertanya ke mang-mang tukang jual air.
“Pak, jalan banjar negara sebelah mana ya?”
“lewat jalan kudus itu neng ntar masuk kedalm belok kiri. Ketemu arah mesji Al-mu’minun ntar dekat sana.”
“oya, makasi Pak.”
“aku berjalan di belakang bapak jual Air.”
Bapaknya berjalan cukup pelan karena harus mendorong beban Air yang lumayan menurutku, akhirnya aku mendahului Bapaknya juga. Di tengah jalan aku kelewatan.
“Neng, neng... sebelah sini neng.”
Aku menoleh kebelakang.
“eh iya pak..” sambil tersenyum, sedikit malu aku.
“nanti ke mesjid al-mu’minun itu ya, ntar kelihatan kok.”
“ou, makasi banyak pak.”
Uh…..untunglah ada bapak-bapk tukang air yang baik hati lagi yang menolongku. Kalo g nyasar ke-3 kalinya.
***
setelah dekat mesjid Al-mu’minun itu langsung keliatan plang Jl. Banjar negara. Yang ku perhatikan kali ini adalah No. rumahnya. No. 14
Ada 11, 13 tapi 14nya nggak ada. Wah, parah. Akhirnya aku sms lagi kang Iqbal. Sebenarnya takut mengganggu sich, soalnya komunikasi saat ini biasanya pakai medsos aja biasa hemat, aku masih aja pake sms.
“Kang Li udah di No. 13 kok 14 nya nggak ada ya.”
Dari pada menunggu aku iseng memperhatikan lagi no. no. rumah di sekitaran sana. Dan ternyata ada 14 nya. Seiiring dengan aku melihat angka 14 keluarlah seorang cowok berperawakan putih kurus dan tinggi.
“Lily.”
“Eh, iya kang.”
Jl. Banjarnegara No. 14 Antapani, Jawa Barat.
Komentar