Job Fair

Baru saja lulus kuliah itu, memang sangat membahagiakan. Serasa baru lepas dari yang namanya neraka. Terlebih aku punya banyak masalah dengan kampus. Aku benci dengan sistem pendidikan, bukan dengan pendidikannya. Aku menderita sangat selama menyelesaikan pendidikan S1. Meski begitu, aku masih punya niatan untuk melanjutkan ke S2. Dan tak main-main, aku ingin keluar negri untuk jenjang pendidikanku setelah ini.

Mungkin, Tuhan itu amat sangat tau. bukan mungkin lagi, tapi sangat MAHA Tau. ya, kalau bukan karena kendala bahasa, aku mungkin tak akan S1 di dalam negri, tanpa menghiraukan kendala keuangan juga. Keuangan bukanlah kendala bagiku. Karena itu bisa didapatkan dari pihak lain. Contohnya beasiswa. Dan beasiswa itu tak sedikit. Malah melimpah.

Saat hampir lulus, maksudnya saat menunggu waktu sidang, aku punya waktu hampir 1 bulan untuk rehat dulu dengan yang namanya kampus. Nah, keadaan seperti inilah yang membuat tidak enak. Ada jarak yang cukup lama antara saat aku mengajukan sidang hingga hari H persidang. Pastinya aku kepikirkan kampus terus secara tidak sengaja, meski pada dasarnya aku sangat cuek dengan kampus. Hingga tidak sedikit orang yang menganggapku meremeh semuanya. Bukan begitu maksudku. Cuma buat apa aku bercemas-cemas ria toh waktunya akan datang sendiri. Yang penting siapkan semaksimal mungkin dan yakin akan berhasil, pasti hasilnya pun tak akan mengecewakan.

Balik ketopik semua. Jadi selama jeda  1 bulan itu aku sudah menyusun beberapa rencana kehidupanku kedepannya akan seperti apa. Kebetulan saat aku sebenarnya dalam keadaan free itu, begitu banyak job fair yang di adakan di bandung. Ada 3 job seingatku. Yaitu indonesia job fair, kompas karier dan satu lagi aku lupa.

Sialnya saat itu di tengah-tengah masa jedaku ada moment lebaran. Jadilah aku harus pulang ke kampung halaman ku di Bukittinggi. Untuk itu aku juga sudah memperkirakan dan memperhitungankan segalannya. Karena lebarannya sangat dekat dengan jobfair-jobfair tadi. Aku pusing dan akhirnya membiarkan 2 jobfair berlalu. Lagian sedari awal pun aku tak berniat untuk bekerja di perusahaan, aku lebih bahagia jika otakku ini dipakai untuk membangun usahku sendiri atau membantu membangun usaha UMKM yang masih kecil. Karena hasilnya akan lebih kelihatan daripada membantu yang besar, sebesar apapu usaha kita jadi terllihat kecil. Entah lah sepertinya aku masih harus memperbaiki pola pikirku lagi.

Komentar